Senin, 09 April 2012

BASIC PHOTOGRAPHY:
Belajar Fotografi = Paham Dasar-Dasar Fotografi dan Kamera
oleh Mishbahul Munir, Poetrafoto Photography Studio Yogyakarta Indonesia
Saya punya pendapat yang simpel soal fotografi. ”Belajar fotografi harus paham terlebih dahulu
kamera yang dimiliki dan tahu dasar-dasar fotografi”. Nah, untuk memperjelas pendapat ini,
silahkan baca artikel berikut ini. Semoga bermanfaat!
Siapa saja bisa memotret. Dengantambahan pikiran kreatif dan kerja keras, kita dapat menciptakan gambar hebat yang menunjukkan segenap kreasi dan interpretasi terhadap apa
yang dilihat dan dijepret. Nah, seni mengabadikan gambar dengan
menggunakan kamera disebut dengan Fotografi. Fotografi berasal dari bahasa
Latin yaitu: photos adalah cahaya, sinar. Sedang graphein berarti tulisan,
gambar atau disain bentuk.
Jadi, fotografi secara luas adalah menulis atau menggambar dengan menggunakan cahaya. Gambar mati atau lukisan yang didapat
melalui proses penyinaran dengan menggunakan cahaya. Karena dalam membuat gambar kita
menggunakan alat yang disebut camera, maka sudah tentu kita harus benar-benar menguasai
alat tersebut juga termasuk beberapa teknik dasarnya.
Dalam menggunakan kamera kita mengenal apa yang disebut dengan:
Fokus
Fokus adalah titik api.

Rana
Keterangan gambar:
1. Shutter plate
2. Aperture covered by leaf shutter
3. Aperture during exposure
4. Leaf blade
5. Catch mechanism
6. Butterfly spring
Kecepatan Rana adalah tirai yang bergerak turun naik di dalam kamera yang berfungsi untuk mengatur berapa lama film hendak disinari. Rana memiliki satuan dengan nomor: B-1-2-4-8-15-30-60-125-250-500-1000-2000. Besar kecilnya satuan rana dapat ditentukan sendiri dengan mengatur besar dan kecilnya satuan rana serta besarnya diafragma.
Ada beberapa rana dalam kamera. Diantaranya rana celah dan rana pusat. Rana celah ada dua
yaitu: Rana celah vertical dan horizontal. Keduanya terletak di bagian dalam kamera. Dia
bertugas menutup tirai dan mengikuti fungsinya. Rana vertial menutup secara vertikal dan yang
horizontal menutup secara horizontal. Sedang Rana pusat adalah, Rana yang terletak pada lensa
letaknya berdampingan dengan diafragma dan menutupnya dengan cara memusat.




Diafragma
Diafragma adalah lubang dalam lensa kamera
tempat cahaya masuk saat melakukan pemotretan.Diafragma memiliki beberapa ukuran atau satuan angka. Setiap lensa mempunyai perbedaan bukaan diafragma masing-masing. Biasanya, ukuran diafragma dimulai dengan 2,8 – 4 – 5,6 – 8 – 11 – 16 – 22. Besar kecilnya bukaan diafragma yang kita pilih menghasilkan foto yang berbeda.
Bukaan diafragma kecil akan menghasilkan ruang yang luas. Sedang bukaan diafragma besar akan membuat ruang tajam sempit (Blur). Atau mudahnya, diafragma artinya bukaan lensa.
Efeknya, makin besar bukaan, maka makin besar kecepatan yang dibutuhkan, speed makin tinggi. Efek lainnya, makin besar bukaan, makin sempit
ruang tajamnya, artinya makin besar efek blur untuk daerah diluar ruang tajam yang fokus.
Banyak cara dan tujuan penggunaan/pemilihan diafragma, yang antara lain akan jelas
mempengaruhi konteks dari foto yg kita buat. Misalkan, untuk memotret landscape, dengan
memakai kamera apapun, coba setel ke diafragma paling sempit (angka paling besar) yang mungkin dicapai, lalu diimbangi dengan penyetelan lama waktu bukaan seperlunya (perhatikan light meter).
Tapi khususnya untuk pemotretan malam, kadang
kita tidak bisa mencapai bukaan paling sempit karena terbatas waktu bukaan shutter yang tidak
bisa terlalu lama, apalagi di kamera prosumer yang biasanya terbatas hanya 13 detik
maksimum. Untunglah untuk kamera digital prosumer hal ini tidak masalah. Dengan ukuran
sensor yang jauh lebih kecil daripada satu frame film 35mm maka ruang tajam tetap cukup luas,
walaupun diafragma disetel ke f/3.5 misalnya. Dan, semuanya tergantung bagaimana foto akan
kita buat.

Pencahayaan
Pencahayaan adalah proses menyinari film dengan cahaya yang datang dari luar kamera dengan
mengontrol besarnya diafragma dan kecepatan. Dalam pencahayaan, bukaan diafragma
menentukan intensitas cahaya yang diteruskan film. Sedangkan kecepatan rana menentukan
jangka waktu transmisi sinar.
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menentukan kombinasi yang tepat antara bukaan
diafragma dengan kecepatan. Salah satunya dengan memilih prioritas diafragma. Maksudnya,
pemotret bisa memilih berapa besar bukaan diafragma yang akan digunakan. Setiap bukaan
diafragma yang dipilih akan membuat hasil gambar yang berbeda. Bila pemotret memilih
menggunakan rana tinggi, maka itu berguna untuk menghentikan aksi. Sedang rana rendah akan
membuat aksi kabur. Sedang untuk mengambil gambar di tempat dengan cahaya yang kurang
maka untuk mengatasinya yang dilakukan oleh fotografer adalah memakai film dengan
kecepatan tinggi. Misalnya Iso 400, 600, 800 atau Iso 1600.
Cara untuk mengukur pencahayaan biasanya ada di setiap kamera. Untuk mengukur cahaya
agar sesuai, kita bisa mensiasatinya dengan cara mengukur telapak tangan atau mendekatkan
kamera kita sekitar 30 cm dari objek. Maka, kita akan mendapatan pencahayaan yang sesuai.
Untuk mendapatkan cahaya yang baik dalam pemotretan biasanya kita akan memilih memotret
pada jam 08.00-10.00 dan 16.00-18.00. Biasanya dalam waktu ini, cahaya dalam kondisi yang
baik, dan tak terlalu keras.
Dalam pencahayaan ada beberapa teknik yang harus diperhatikan. Diantaranya:
Penerangan depan: Sumber cahaya berasal dari depan objek. Cahaya ini akan menghasilkan
gambar yang datar.
Penerangan belakang: Sumber cahaya berasal dari belakang objek. Dengan sumber cahaya
yang seperti ini maka objek yang kita ambil menjadi shiluette (hitam). Pemotretan dengan
sumber cahaya dari belakang dilakukan bila kita ingin membuat sebuah foto shiluete.
Penerangan Samping: Pemotretan dengan memakai sumber cahaya dari samping membuat
objek yang kita ambil akan nampak tegas. Biasanya cahaya ini berasal dari tambahan
penerangan lain seperti lampu, blitz dan lain sebagainya.

Lensa
Lensa adalah alat yang terdiri dari beberapa cermin yang berfungsi mengubah benda menjadi
bayangan, terbalik dan nyata. Lensa terletak di depan kamera. Ada beberpa jenis lensa. Lensa
normal, lensa lebar (wide) dan lensa panjang atau biasa disebut dengan lensa tele.
Lensa normal berukuran fokus sepanjang 50 mm atau 55 mm untuk film berukuran 35 mm. Sudut pandang lensa ini hampir sama dengan sudut pandang mata manusia. Selain lensa lebar, ada juga lensa tele. Lensa lebar bisanya mempunyai lebar fokusnya 16-24mm. Lensa ini cocok
untuk mengambil gambar pemandangan. Lensa tele adalah lensa yang memiliki focal length panjang. Lensa ini dapat
digunakan untuk memperoleh ruang tajam yang pendek dan dapat menghasikan prespektif
wajah yang mendekati aslinya. Lensa ini biasanya berukuran 85mm, 135mm dan 200mm.
Bisanya fotografer menggunakan lensa sesuai dengan kebutuhannya. Bila ingin memotret
benda atau objek yang dekat, atau memotret pemandangan, biasanya mereka menggunakan
lensa normal atau lensa dengan sudut lebar. Namun bila fotografer ingin mengabadikan sebuah
moment tertentu dengan jarak yang jauh, biasanya mereka menggunakan lensa tele. Dengan
demikian, mereka tak perlu repot untuk membidik objek, dan kerja mereka akan semakin
mudah.
Selain lensa normal dan lensa tele, ada juga jenis lensa lainnya yang biasa disebut dengan lensa
variasi atau lensa special (special lense). Biasanya lensa ini digunakan untuk keperluan tertentu.
Contohnya fish eye lens (lensa mata ikan – 180 derajat). Memotret dengan lensa ini fotografer
akan memperoleh hasil yang unik. Namun, lensa ini tidak berfungsi untuk menyaring sesuatu
kecuali mengubah pandangan guna mencapai hasil yang menyimpang dari pemotretan biasa.
Bila fotografer ingin mengambil objek dengan ukuran kecil atau pemotretan berjarak dekat
(mendekatkan pemotret ke objek), umumnya lensa yang dipakai adalah lensa makro. Lensa ini
biasanya juga dipakai untuk keperluan reproduksi karena dapat memberikan kualitas prima dan
distorsi minimal. Misalnya: untuk memotret bunga, serangga, dll.
__________
Selain peralatan, untuk menghasilkan sebuah foto yang baik kita juga harus memperhatikan
beberapa hal diantaranya: Komposisi, cahaya, garis, bentuk, tekstur, rupa, warna dan vertical
atau horizontal.

Komposisi
Komposisi adalah susunan objek foto secara keseluruhan pada bidang gambar agar objek
menjadi pusat perhatian (POI=Point of Interest). Dengan mengatur komposisi foto kita juga
dapat dan akan membangun “mood” suatu foto dan keseimbangan keseluruhan objek. Berbicara
komposisi maka akan selalu terkait dengan kepekaan dan “rasa” (sense). Untuk itu sangat
diperlukan upaya untuk melatih kepekaan kita agar dapat memotret dengan komposisi yang
baik.
Ada beberapa cara yang dapat dipakai untuk menghasilkan komposisi yang baik. Diantaranya:

Sepertiga Bagian (Rule of Thirds). Pada aturan umum fotografi, bidang foto sebenarnya dibagi menjadi 9 bagian yang sama. Sepertiga bagian adalah teknik dimana kita menempatkan objek pada sepertiga bagian bidang foto. Hal ini sangat berbeda dengan yang umum dilakukan, di mana
kita selalu menempatkan objek di tengah-tengah bidang foto.
Sudut Pemotretan (Angle of
View). Salah satu unsur yang membangun sebuah komposisi foto adalah sudut pengambilan
objek. Sudut pengambilan objek ini sangat ditentukan oleh tujuan pemotretan. Maka dari itu,
jika kita ingin mendapatkan satu moment dan mendapatkan hasil yang terbaik, kita jangan
pernah takut untuk memotret dari berbagai sudut pandang. Mulailah dari yang standar (sejajar
dengan objek), kemudian cobalah dengan berbagai sudut pandang dari atas, bawah, samping
sampai kepada sudut yang ekstrim.
Komposisi pola garis Diagonal,
Horizontal, Vertikal, Curve. Di dalam pemotretan Nature, pola garis juga menjadi salah satu
unsur yang dapat memperkuat objek foto. Pola garis ini dibangun dari perpaduan elemen-elemen lain yang ada didalam suatu foto. Misalnya pohon, ranting, daun, garis cakrawala, gunung, jalan, garis atap rumah dan lain-lain. Elemen-elemen yang membentuk pola garis ini
sebaiknya diletakkan di sepertiga bagian bidang foto. Pola Garis ini dapat membuat komposisi foto menjadi lebih seimbang dinamis dan tidak kaku.

Background (BG) dan Foreground (FG). Latar belakang dan latar depan adalah benda-benda
yang berada di belakang atau di depan objek inti dari suatu foto. Idealnya, BG dan FG ini
merupakan pendukung untuk memperkuat kesan dan fokus perhatian mata kepada objek. Selain
itu juga “mood” suatu foto juga ditentukan dari unsur-unsur yang ada pada BG atau FG. BG
dan FG, seharusnya tidak lebih dominan (terlalu mencolok) daripada objek intinya. Salah satu
caranya adalah dengan mengaburkan (Blur) BG dan FG melalui pengaturan diafragma.
Beberapa teknik sudut pengambilan (angle) sebuah foto, yaitu:
Pandangan sebatas mata (eye level viewing); paling umum, pemotretan sebatas mata pada
posisi berdiri, hasilnya wajar/biasa, tidak menimbulkan efek-efek khusus yang terlihat menonjol
kecuali efek-efek yang timbul oleh penggunaan lensa tertentu, seperti menggunakan lensa sudut
lebar, mata ikan, tele, dan sebagainya karena umumnya kamera berada sejajar dengan subjek.
Pandangan burung (bird eye viewing); bidikan dari atas, efek yang tampak subjek terlihat
rendah, pendek dan kecil. Kesannya seperti ‘kecil’/hina terhadap subjek. Manfaatnya seperti
untuk menyajikan suatu lokasi atau landscap.  Low angle camera; pemotretan dilakukan dari bawah. Efek yang timbul adalah distorsi perspektif yang secara teknis dapat
menurunkan kualitas gambar, bagi yang kreatif hal ini dimanfaatkan untuk
menimbulkan efek khusus. Kesan efek ini adalah menimbulkan sosok pribadi yang
besar, tinggi, kokoh dan berwibawa, juga angkuh. Orang pendek akan terlihat sedikit
‘normal’. Menggambarkan bagaimana anak-anak memandang ‘dunia’ orang
dewasa. Termasuk juga dalam jenis ini pemotretan panggung, orang sedang
berpidato di atas mimbar yang tinggi. Frog eye viewing, pandangan sebatas mata
katak. Pada posisi ini kamera berada di bawah, hampir sejajar dengan tanah dan
tidak diarahkan ke atas, tetapi mendatar dan dilakukan sambil tiarap. Angle ini digunakan pada
foto peperangan, fauna dan flora.
Waist level viewing, pemotretan sebatas pinggang. Arah lensa disesuaikan dengan arah mata
(tanpa harus mengintip dari jendela pengamat). Sudut pengambilan seperti ini sering digunakan
untuk foto-foto candid (diam-diam, tidak diketahui subjek foto), tapi pengambilan foto seperti
ini adalah spekulatif.
High handheld position; pemotretan dengan cara mengangkat kamera tinggi-tinggi dengan
kedua tangan dan tanpa membidik. Ada juga unsur spekulatifnya, tapi ada kiatnya yaitu dengan
menggunakan lensa sudut lebar (16 mm sampai 35 mm) dengan memposisikan gelang fokus
pada tak terhingga (mentok) dan kemudian memutarnya balik sedikit saja. Pemotretan seperti
ini sering dilakukan untuk memotret tempat keramaian untuk menembus kerumunan.

Film
Film adalah media untuk merekam gambar yang terdiri dari lempengan tipis dengan emulsi
yang peka cahaya. Karena peka cahayalah yang membuat film harus disimpan dalam kotak atau
tabung yang tak terkena cahaya. Film mempunyai ukuran 35mm dan 120mm atau disebut
medium format.
Ada beberapa jenis film. Diantaranya:
NEGATIF FILM: Film negatif atau klise, adalah sebutan untuk citra yang terbentuk pada film
sesudah dipotretkan dan sesudah dikembangkan, di mana bagian yang terlihat gelap pada
gambar, pada objek terlihat terang. Warna yang timbul berlawanan karena bagian terang dari
objek memantulkan banyak cahaya ke film dan menghasilkan area gelap.
X-RAY FILM: Film sinar-x. Film ini dibuat kontras dan dibungkus dengan kertas timah. Karena
sinar x dapat menembus benda-benda padat seprti kulit, tekstil, dan lain-lain, maka dalam
pemotretan akan tampak bayangan-bayangan yang mengganggu. Film ini biasa digunakan
dalam bidang kedokteran dan pengobatan.
POLAROID FILM: Polaroid film adalah film yang digunakan untuk menghasilkan foto dalam
waktu singkat tetapi tidak mempunyai negatif. Dahulu banyak fotografer professional yang
menggunakan kamera ini namun semakin hari kamera dan film jenis ini sudah ditinggalkan.
Hanya sebagian fotografer yang masih memakainya. Film Polaroid ditemukan oleh dr Land.
ORTHOCHROMATIC FILM: Film yang sensitif terhadap warna biru dan hijau tapi tidak pada
merah.
MEDIUM FILM: Film dengan kecepatan sedang (ISO 100, 200). Kelompok film yang paling
popular dan banyak diminati pemotret. Ideal untuk pemotretan dalam cuaca yang terang/cerah.
Iso
Iso adalah standard untuk kategori film yang digunakan yang mengindikasikan besar kepekaan
film terhadap cahaya. Semakin kecil angka iso, semakin rendah kepekaannya terhadap cahaya.
Kepekaan cahaya ini sangat menjadi prioritas dalam pemotretan. Biasanya bila kita ingin
memotret pada suasana cahaya yang terang maka, kita dianjurkan memakai film dengan Iso 100
atau film dengan kecepatan rendah. Ukuran Iso pada film ada berbagai jenis ukuran: 25-50-100-
200-400-600-800 dan 1600.
Filter
Penyaring dalam bentuk kaca yang tembus cahaya yang mempunyai ketebalan rata . Filter
biasanya dipasang di ujung depan lensa. Ada beberapa jenis filter, diantaranya:
POL COLOR FILTER: Filter yang terdiri
dari selembar polarisator kelabu dan
polarisator warna, terdapat berbagai
kombinasi warna sehingga dapat
digunakan untuk efek-efek tertentu.
POL COLOR FILTER: Filter yang terdiri
dari selembar polarisator kelabu dan
polarisator warna, terdapat berbagai
kombinasi warna sehingga dapat
digunakan untuk efek-efek tertentu.
POL CONVERSION FILTER: Filter
terdiri dari selembar polarisator dengan
filter konversi warna (85B). Biasanya
juga digunakan untuk jenis kamera kine,
sehingga memungkinkan film tungsten
digunakan untuk cerah hari dan
mempunyai efek seperti filter polarisasi.

0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:

Free Blog Templates